Kirimkan saja ilustrasinya melalui e-mail

Bapak/Ibu, saya sangat paham bahwa anda ingin mempelajari dahulu proposalnya, namun kalau saya boleh jujur banyak bagian dari proposal tersebut yang cukup teknis dan perlu saya jelaskan secara langsung kepada anda.

Bayangkan jika anda pergi ke apotik dan kemudian apotik itu langsung memberikan obat tersebut tanpa menjelaskan berapa dosisnya, bagaimana cara meminumnya dan kapan harus diminum? Hal yang sama berlaku dalam perencanaan asuransi.

Izinkan saya untuk bertemu dengan anda selama 15 menit saja  untuk menjelaskan dan bisa memberikan manfaat bagi keluarga anda.

Saya lebih pilih, belikan anak-anak saya properti

Bapak/Ibu saat ini kalau boleh memilih dalam keadaan terdesak, apakah anda memilih rumah senilai 5 Milyar atau dana tunai senilai 5 Milyar? ( kebanyakan akan memilih dana tunai )

Mengapa Bapak/Ibu memilih tunai? pastinya karena dalam keadaan terdesak dana tunai lebih mudah di akses dibandingkan dengan asset berbentuk properti.

Tahukah Bapak/Ibu bahwa kebanyakan keluarga saat ditinggalkan pencari nafkahnya akan langsung berada dalam keadaan terdesak?

Jika memang itu kasusnya, mengapa anda masih bersikeras meninggalkan asset kepada anak-anak anda dan bukan uang tunai seperti yang anda sampaikan?

( tambahan informasi : properti memiliki kelemahan seperti biaya-biaya balik nama, pajak dan tidak likuid di keadaan terdesak, diluar itu juga selera, belum tentu rumah itu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh anaknya)

Saya gak suka asuransi, kayak nyumpahin orang sakit

Saya memahami mengapa Bapak / Ibu merasa demikian, awalnya saya juga berpikir seperti itu namun setelah saya mempelajari lebih dalam, asuransi itu tentunya tidak akan bisa menyembuhkan atau mengambil rasa sakit tersebut.

Tidak ada orang dimanapun yang mau diberikan uang namun harus mengalami kemalangan/kesakitan terlebih dahulu, sebesar apapun uangnya, kesehatan tetap lebih berharga.

Namun peran asuransi disini adalah hanya mengambil beban finasial yang terjadi.

Asuransi itu barangnya gak kelihatan, hanya selembar kertas

Bapak/Ibu, rumah yang anda tempati saat ini milik siapa?

(pasti jawaban : milik saya sendiri )

Apakah buktinya bahwa ini  milik Anda? (jawaban : akta )

Kendaraan yang anda miliki saat ini, milik siapa? (jawaban : milik sendiri )

apakah buktinya? ( jawaban : BPKB )

kalau begitu, setujukah bahwa semua pembuktiannya dalam bentuk kertas?

Sebesar apapun anda bersikeras bahwa rumah yang anda tempati adalah milik anda, namun jika anda tidak memiliki bukti akta kepemilikan, maka anda tidak dapat membuktikannya. 

Dan ini semua tidak ada bedanya dengan buku polis yang hanyalah secarik kertas.

Istri saya tidak setuju saya ikut asuransi

Memang tidak ada istri yang suka bayar asuransi.

Tapi tidak ada janda yang mengeluh karena UP yang terlalu besar.

Bapak adalah kepala keluarga, apakah Bapak akan membiarkan tanggung jawab menimpa ibu dan anak-anak ketika ada musibah?

Saya yakin istri setuju jika mengerti manfaat ini untuk kebaikan keluarga.

Ijinkan saya bertemu ibu utk memberi pengertian yang layak.

Saya lebih percaya sama Tuhan saja

Setuju Bapak / Ibu. Saya juga percaya Tuhan

Apakah Bapak / Ibu mengunci rumah sebelum pergi?

Memakai helm ketika naik motor?

Masih bekerja mencari nafkah? Masih ke dokter ketika sakit? Mengapa tidak percayakan kepada Tuhan juga?

Tentu Bapak/Ibu setuju, manusia memiliki porsi nya dalam berusaha. Dan Tuhan berikan akal budi agar kita mengusahakan yang kita mampu.

Tuhan bekerja melalui tangan manusia lain bukan? Menurut anda atas seijin siapa kita dapat bertemu hari ini? Tentunya tidak ada yang kebetulan ya? Mungkin ada rencanaNya atas pertemuan kita.